PELARI
Sprinter, akan mengerahkan seluruh tenaganya, sejak start hingga finish. Karena ia hanya akan berlari dalam jarak pendek. Sebentar lengah akan kalah. Sprinter tahu pasti kapan ia berlari dan kapan ia berhenti. Saat berlari ia akan menggunakan seluruh kemampuannya. Dan saat berhenti di garis finish, ia akan mengendurkan seluruh otot-otot kaki, relaksasi.
Pelari marathon, ia tahu kapan start. Ia akan memilih berlari sekuat tenaga di awal untuk memberi efek takut pada lawan, lalu di tengah perjalanan ia akan sedikit mengurangi kecepatan, menghemat tenaga, karena ia tahu perjalanan masih jauh, masih sekian kilometer lagi. Ia akan kembali berlari kencang menjelang finish. Karena ia tahu pasti perjuangannya berpuluh kilometer akan sia-sia, bila ia tak memacu tenaga di detik-detik terakhir. Ia pacu semangatnya agar mampu mengalahkan rasa lelah yang mendera. Ia seperti memperoleh tenaga baru, tak ada lagi keletihan, hanya ada semangat, menuju garis finish.
Sprinter atau pelari marathon, tahu dengan pasti kapan ia akan berlari dan kapan berhenti. Pada saat bagaimana ia memacu tenaga, dan kapan ia harus menghemat tenaga. Mereka tahu titik memulai, tahu pula titik berhenti. Sejauh apapun jarak lari marathon, sang pelari tahu dengan pasti, ia akan berhenti pada satu titik.
Manusia, tak ada satupun yang tahu dengan pasti kapan ia akan memulai. Manusia tak pernah tahu dimana garis start. Setelah berlari beberapa waktu, baru manusia dapat melihat gris start yang telah ia tinggalkan. Itupun tak pasti, karena ia hanya mendengar informasi dari manusia di sekelilingnya. Ia hanya tahu sebuah penanda, yang disebut ulang tahun. Manusia dapat meyakini ia lahir pada jam J, hari H, tanggal dan tahun dengan benar. Meski sebenarnya ia tak tahu, ia hanya yakin, tapi tidak tahu. Ia tak pernah tahu pada saat melewati garis start, apakah ia dalam posisi menangis melengking atau lirih, dalam posisi seperti apa kepala dan kakinya, bagaimana bentuk jari-jari tangannya. Tak ada yang pernah tahu, hanya lingkungan sekelilingnya yang meyakinkannya. Manusia juga tidak pernah tahu, mengapa ia harus start pada jam J, hari H, tanggal, bulan dan tahun. Ia juga tidak memiliki alternatif untuk tidak start pada saat itu.
Dan selama beberapa tahun ia tak pernah tahu apa yang ia lakukan, bagaimana ia bisa terus bertahan, bagaimana cara ia berjalan, bagaimana cara ia belajar bicara, belajar makan, belajar memanggil ayah dan ibu. Bahkan ia juga tidak tahu mengapa ia harus memanggil orang itu ayah atau ibu, mengapa bukan orang lain.
Setelah sekian tahun, orang di sekelilingnya mencoba meyakinkan saat ia start, bagaimana ia belajar tentang kehidupan, dan dengan apa ia bertahan hidup. Semua informasi yang ia terima ia yakini kebenarannya, karena ia tak memiliki kemuingkinan untuk membantah, karena sebenarnya ia tak tahu.
Manusia akan terus berlari. Tak mungkin bagi manusia menjadi sprinter, lari kencang terus, karena bila itu ia lakukan, ia akan kehabisan tenaga di tengah jalan. Jarak kehidupan tak pernah ada yang tahu seberapa panjang. Manusia juga tak mungkin santai selalu, karena tempat ia hidup, lingkungan tempat ia tinggal, selalu berubah, selalu maju, tak pernah berhenti. Jika manusia selalu lamban ia akan ditinggal dan hanya menjadi pecundang.
Dan manusia juga tak pernah tahu kapan ia akan berhenti. Kalau manusia tahu kapan ia akan berhenti, ia akan menjadi pelari marathon, kencang di awal, agak lamban di tengah, dan kembali kencang di akhir. Mungkin manusia akan memilih menjadi manusia yang akan menikmati seluruh kehidupan, meletakkan posisi ragawi sebagai satu-satunya pertimbangan tindakan, atau bahkan bila perlu menyejajarkan diri dengan perilaku binatang. Pasti manusia ingin menikmati sepuas-puasnya dorongan ragawi. Lalu kemudian menjelang finish, ia akan menempatkan nalar, rasa, dan keyakinan pada Tuhan sebagai satu-satunya tujuan. Tapi karena manusia tak tahu kapan akan berhenti, ia tak mampu memilah kehidupannya menjadi dua bagian yang ekstrem. Akhirnya manusia memilih berjalan berdasarkan pilihan-pilihan yang ia ciptakan sendiri. Sesekali ia berlari kencang, lalu melambat, lalu kencang, kencang lagi, kemudian melambat. Begitu seterusnya tergantung pada situasi yang ia hadapi.
Manusia berbeda dengan pelari. Bila pelari, garis finish adalah tujuan yang dinanti dan amat membahagiakan bila ia dapat sampai pada titik itu. Sedang manusia, garis akhir menjadi sesuatu yang menakutkan, tak diharapkan. Bila memungkinkan, ia akan terus berlari dan tak akan berhenti
0 Comments:
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

